BANGKOK – Harga minyak mentah di pasar spot Asia awal pekan ini masih berkutat di level USD91 per barel setelah China mengumumkan langkah terbarunya untuk membatasi pinjaman yang justru menjadi penyebab melemahnya permintaan terhadap minyak mentah. Sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP), Senin (17/1/2011), harga minyak mentah dunia untuk pengiriman Februari turun 25 sen ke USD91,29 pada perdagangan elektronik di New York Merchantile Exchange (Nymex), China sebagai konsumen energi terbesar dunia, pada Jumat pekan lalu mengumumkan kebijakan untuk menaikkan jumlah cadangan uang di bank untuk ketujuh kalinya dalam setahun terakhir. Hal ini untuk membatasi pinjaman dan menjinakkan inflasi. Dengan kebijakan ini, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan dapat lebih lambat karena adanya pelemahan permintaan minyak mentah. Sementara itu, permintaan minyak Amerika Serikat (AS) juga terkadang mengalami pelemahan namun setiap berita ekonomi positif bisa saja mendorong harga minyak lebih tinggi. Pada perdagangan Nymex lainnya di kontrak Februari, minyak pemanas turun 0,2 sen menjadi USD2,64 per galon dan bensin ditambahkan 0,2 sen menjadi USD2,497 per galon. Gas alam berjangka naik satu sen menjadi USD4,49 per 1.000 kaki kubik. Sementara itu, minyak mentah Brent naik 13 sen menjadi USD98,51 per barel di bursa ICE Futures di London. (adn)(rhs)